Kamis, 29 Oktober 2015

MANUSIA DAN PENDERITAAN

A.Pengertian Penderitaan
            Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta yaitu drha artinya menahan atau menanggung. Derita artinya merasakan atau menanggung sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin atau lahir batin.
            Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensita penderitaan juga bertingkat-tingkat, ada yang berat ada yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat tidaknya intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain.
            Penderitaan akan dialami oleh  semua orang, hal itu sudah merupakan resiko hidup. Tuhan memberikan kebahagian dan juga penderitaan yang kadang-kadang bermakna agar manusia sadar untuk tidak berpaling dari-Nya. Kepada manusia Tuhan memberikan kelebihan dibandingkan dari makhluk ciptaan yang lain. Bagi manusia yang kuat imannya musibah yang dialaminya akan cepat menyadarkannya untuk bertobat dan bersikap pasrah akan nasib yang ditentukan Tuhan kepadanya. Kepasrahan karena yakin bahwa kekuasaan Tuhan memang jauh lebih besar darinya, akan membuat manusia menyadari dirinya kecil dan menerima takdir. Dalam kepasrahan demikianlah akan diperoleh suatu kedamaian dalam hatinya, sehingga secara berangsur berkurang penderitaan yang dialaminya, akhirnya bersyukur bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang lebih berat dari yang dialaminya.

B.Siksaan
            Siksaan dapat diartikan siksaan jasmani dan juga dapat berupaa siksaan rohani. Akibat siksaan yang dialami seseorang, timbullah penderitaan. di dalam kitab suci diterangkan jenis dan ancaman siksaan yang dialami manusia di akhirat nanti. Yaitu siksaan bagi orang-orang musyirk, sirik dengki, memfitnah, mencuri, membunuh dan sebagainya. Dengan siksaan-siksaan itu Tuhan tidak akan menganiaya mereka, namun merekalah yang menganiaya diri sendiri karena dosa-dosa yang mereka lakukan.
            Siksaan yang bersifat psikis misalnya kebimbangan, kesepian, dan ketakutan.
            Kebimbangan dialami seseorang bila ia pada suatu saat tidak dapat menetukan pilihan mana yang akan diambil. Bagi orang yang lemah berpikirnya, masalah kebimbangan akan lama dialami, sehingga siksaan itu berkepanjangan. Tetapi bagi orang yang kuat berpikirnya ia akan cepat mengambil suatu keputusan, sehingga kebimbangan akan cepat diatasi.
             Kesepian yang dialami oleh seseorang merupakan rasa sepi dalam dirinya sendiri atau jiwanya walaupun ia berada dalam lingkungan yang ramai. Seperti halnya kebimbangan, kesepian perlu cepat diatasi. Sebagai homo socius, seseorang perlu kawan yang dapat diajak komunikasi untuk mengalahkan rasa kesepiannya. Selain mencari kawan, seseorang juga perlu mengisi waktunya dengan kesibukan. Khususnya yang bersifat fisik, sehingga rasa kesepian tidak memperoleh tempat dan waktu dalam dirinya.
            Ketakutan merupakan bentuk lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami siksaan batin. Bila rasa takut itu dibesar-besarkan yang tidak pada tempatnya maka itu di sebut phobia. Beberapa jenis-jenis phobia antara lain:
(a)   Claustrophobia dan Agoraphobia
Claustrophobia adalah ketakutan terhadap ruangan tertutup dan sempit. Agoraphobia adalah ketakutan yang disebabkan seseorang orang berada di tempat terbuka atau ramai.
(b)   Acrophobia
Acrophobia merupakan ketakutan seseorang bila berada di tempat tinggi.
(c)    Acluphobia
Acluphobia adalah ketakutan seseorang akan kegelapan. Sebab dalam pikirannya dalam kegelapan akan muncul sesuatu yang ditakuti.
(d)   Entetophobia
Adalah ketakutan terhadap jarum suntik.
(e)   Atychiphobia
Adalah takut akan kegagalan. Ia merasa bahwa apa yang akan dijalankan mengalami kegagalan
Apa yang membuat seseorang menjadi phobia?
            Ahli-ahli medis mempunyai pendapat yang berbeda-beda dan banyak penderita yang mempunyai teori tentang asal mula ketakutan mereka. Kebanyakan phobianya di mulai dengan suatu shock emosional atau suatu tekanan pada waktu tertentu. Beberapa penderita mengatakan bahwa mereka memang merasa gelisah dan tertekan sejak masa kanak-kanak, tetapi phobia juga dapat berkembang dalam diri orang-orang yang kelihatannya tenang dan mantap.
            Umumnya ada dua aliran tentang penyebab phobia. Ahli-ahli jiwa cenderung berpendapat bahwa phobia adalah suatu gejala dari suatu problema psikologis yang dalam, yang harus di temukan, dihadapi, dan di taklukan sebelum phobianya hilang. Sebaliknya ahli-ahli yang merawat  tingkah laku percaya suatu phobia adalah problemanya dan tidak perlu menemukan sebab-sebabnya supaya mendapatkan perawatan dan pengobatan. Kebanyakan ahli-ahli setuju bahwa tekanan dan ketegangan disebabkan oleh karena si penderita hidup dalam keadaan ketakutan terus-menerus, membuat keadaan penderita sepuluh kali lebih parah.

c. Kekalutan Mental
            penderitaan batin dalam psikologi di kenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana kekalutan mental dapat dirumuskan sebagai gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah secara kurang wajar.
            Gejala-gejala permulaan bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah:
a.      Nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung.
b.      Nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah.
Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah:
a.      Gangguan kejiwaan nampak dalam gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmani maupun rohaninya.
b.      Usaha mempertahankan diri dengan cara negatif, yaitu mundur atau lari, sehingga cara bertahan dirinya salah.
c.       Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalami gangguan.
Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental antara lain sebagai berikut:
a.      Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna. Hal-hal tersebut sering menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri yang secara berangsur-angsur akan menyudutkan kedudukannya dan menghancurkan mentalnya.
b.      Terjadinya konflik sosial budaya akibat norma berbeda antara yang bersangkutan dengan apa yang ada dalam masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri.
c.       Cara pematangan batin yang salah dengan dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial; over acting sebagai overcompensatie.
Prose-proses kekalutan mental yang di alami seseorang mendorong ke arah:
a.      Positif: trauma (luka jiwa) yang dialami di jawab secara baik sebagai usaha agar tetap survive dalam hidup.
b.      Negatif: trauma yang dialami diperlarutkan sehingga yang bersangkutan mengalami frustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan.

Bentuk-bentuk frustasi antara lain:
a.      Agresi berupa kemarahan yang meluap-luap akibat emosi yang tidak terkendali dan secara fisik berakibat mudah terjadinya hipertensi (tekanan darah tinggi) atau tindakan sadis yang dapat membahayakan sekitarnya
b.      Regresi adalah kembali pada pola reaksi yang primitif atau kekanak-kanakan misalnya dengan menjerit-jerit, menangis meraung-raung, memecahkan barang
c.       Fiksasi adalah peletakan atau pembatasan pada suatu pola yang sama (tetap) misalnya dengan membisu membentur-benturkan kepala pada benda keras
d.      Proyeksi merupakan usah melemparkan atau memproyeksikan kelemahan dan sikap-sikap diri sendiri yang negatif kepada orang lain.
e.      Identifikasi adalah menyamakan diri dengan seseorang yang sukses dalam imaginasinya.
f.        Narsisme adalah self love yang berlebihan sehingga yang bersangkutan merasa dirinya lebih superior dari orang lain.
g.      Autisme adalah gejala menutup diri secara total dari dunia riil tidak mau berkomunikasi dengan orang lain ia puas dengan fantasinya sendiri
Penderita kekalutan mental banyak terdapat di lingkungan seperti:
1.      Kota-kota besar yang banyak memberi tantangan-tantangan hidup yang berat, sehingga orang merasa dikejar-kejar dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, sementara itu sebagian orang tidak mau tahu keperluan hidupnya, sebaian orang tidak mau tahu penderitaan orang lain akibat egoisme sebagai ciri masyarakat kota.
2.      Anak-anak usia muda yang tidak berhasil dalam mencapai apa yang dikehendaki atau diidam-idamkan karena tidak berimbangnya kemampuan dengan tujuannya.
3.      Wanita pada umumnya lebih mudah merasakan suatu masalah yang dibawa ke dalam hati atau perasaannya, tetapi sulit mengeluarkan perasaannya tersebut, sementara itu mereka memiliki kondisi tubuh yang lebih lemah, sehingga kaum wanitalah yang banyak menjadi penderita psikosomatisme (penyakit akibat gangguan kejiwaa) daripada kaum pria.
4.      Orang yang tidak beragam tidak memiliki keyakinan, bahwa diatas dirinya ada kuasa yang lebih tinggi, shingga sifat pasrah umumnya tidak dikenalnya dalam keadaan sulit orang yang demikian mudah sekali mengalami penderitaan
5.      Orang yang terlalu mengejar materi seperti pedagang dan pengusaha yaitu mencari untuk sebanyak mungkin mereka adalah kaum materialis dan mengabaikan masalah spiritual
Bagi mereka yang mulai merasakan tidak mampu lebih lama menderita mereka merasa ptutus asa lalu mengambil jalan pintas dengan bunuh diri.

D.Penderitaan Dan Perjuangan
            Setiap manusia pasti pernah mengalami penderitaan baik berat maupun ringan. Penderitaan dikatakan sebagai kodrat manusia, artinya sudah menjadi konsekuensi hidup manusia, bahwa manusia ditakdirkan bukan hanya untuk bahagia, melainkan juga menderita. Karena itu manusia tidak boleh hidup pesimis, yang menganggap hidup sebagai rangkaian penderitaan. manusia harus optimis, ia harus berusaha mengatasi kesulitan hidup. Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang kecuali orang itu sendiri yang berusaha merubahnya.
            Pembebasan dari penderitaan pada hakekatnya meneruskan kelangsungan hidup. Caranya ialah berjuang menghadapi tantangan hidup dalam alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada dan disertai kepada Tuhan supaya terhindar dari bahaya dan malapetaka. Manusia hanya merencanakan dan Tuhan yang menentukan. Kelalaian manusia merupakan sumber malapetaka yang menimbulkan penderitaan.
            Apabila kita memperhatikan dan membaca riwayat hidup para pemimpin bangsa, orang-orang besar di dunia, sebagaian dari kehidupannya dilalui dengan penderitaan dan penuh perjuangan. Pemimpin kita Bung Karno dan Bung Hatta berapa lama mendekan dalam penjara kolonial karena perjuangannya memerdekakan bangsa. Demikian juga pemimpin-pemimpin kita yang lain.

E.Penderitaan dan sebab-sebabnya
            Apabila kita kelompokkan secara sederhana berdasarkan sebab-sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat di perinci sebagai berikut:
A)     Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia
Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Penderitaan ini kadang di sebut sebagai nasib buruk. Nasib buruk ini dapat diperbaiki manusia supaya menjadi baik. Dengan kata lain manusialah yang dapat memperbaiki nasibnya.
B)     Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan/azab Tuhan
Penderitaan manusia dapat juga terjadi karena siksaan/azab Tuhan. Namun kesabaran, tawakal, dan optimisme dapat merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan itu. Contohnya: seorang anak laki-laki yang dilahirkan buta diasuh dengan tabah oleh orang tuanya. Ia disekolahkan, kemudian kecerdasannya luar biasa daripada yang lain.

F. Pengaruh Penderitaan
            Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif dan sikap negatif. Sikap negatif misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, puyus asa, ingin bunuh diri. Kelanjutan dari sikap negatif ini dapat timbul sikap anti.

            Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup. Bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan, dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan. Sikap positif biasanya kreatif, tidak mudah menyerah, bahkan mungkin timbul sikap keras atau sikap anti.








sumber: Seri diktat kuliah Ilmu budaya dasar. widyo nugroho, achmad muchji. universitas Gunadarma 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar