Kamis, 26 November 2015

Kata Pengantar

Pertama-tama penulis mengucapkan rasa syukur atas limpahan rahmat dan karunia ALLAH SWT. Karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat manyelesaikan laporan yang  berjudul  “Museum Keramik”.
Dalam proses pembuatan laporan ini, penulis telah banyak mendapat dukungan, bimbimngan dan bantuan dari pihak yang berkaitan, sehingga penulis akan menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya terhadap :
1.  ALLAH SWT
2.  Ibu Meti Nurhayati
3. Kedua orang tua
4. Saudara
5. Dan, seluruh sahabat yang telah mendukung dalam penyusunan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu, penulis akan dengan senang hati menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan di masa yang akan datang.
Akhir kata, semoga laporan ini bisa bermanfaat bagi penulis dan pembaca.             


Jakarta, 2 November 2015


                                                                                                                 Penyusun


Daftar Isi

Kata pengantar....................................................................................................................... i
Daftar isi................................................................................................................................ ii
A. Sejarah Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik.......................................................... 1
B. Museum Seni Rupa dan Keramik..................................................................................... 1
C. Cerita Singkat Perjalanan.................................................................................................. 7
Lampiran................................................................................................................................ 9
A. Gambar Lainnya............................................................................................................... 10
B. Tiket Masuk Museum Seni Rupa dan Keramik................................................................ 12
Daftar Pustaka....................................................................................................................... iii



A. Sejarah Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik
            Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik ini dibangun pada tahun 1870. Gedung yang dibangun pada 12 Januari 1870 itu awalnya digunakan oleh Pemerintah Hindia-Belanda untuk Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia). Kemudian pada masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan Indonesia, gedung ini dijadikan sebagai asrama militer. Pada 10 Januari 1972, gedung dengan delapan tiang besar di bagian depan itu dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi. Lalu pada tahun 1973-1976, gedung tersebut digunakan untuk Kantor Walikota Jakarta Barat. Pada tanggal 20 Agustus 1976, gedung ini diresmikan sebagai Gedung Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto. Dan di gedung ini pula terdapat Museum Keramik yang diresmikan oleh Bapak Ali Sadikin (Gubernur DKI Jakarta) pada tanggal 10 Juni 1977, kemudian pada tahun 1990 sampai sekarang menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.

B. Museum Seni Rupa dan Keramik
1.      Koleksi seni rupa
           Museum ini memiliki 500-an karya seni rupa terdiri dari berbagai bahan dan teknik yang berbeda seperti patung, totem kayu, grafis, sketsa, dan batik lukis. Diantara koleksi-koleksi tersebut ada beberapa koleksi unggulan dan amat penting bagi sejarah seni rupa di Indonesia, antara lain:

Gambar 1 “Rapat Ikada” karya Otto Djaya 1965

Gambar 2 “Menyusui” karya Dullah 1972

Gambar 3 “Potret Diri” karya Affandi 1960

Terdapat juga patung yang bercirikan klasik tradisional dari Bali, totem kayu yang magis dan simbolis karya I Wayan Tjokot dan keluarga besarnya. Juga terdapat totem dan patung kayu karya para seniman modern, antara lain G.Sidharta, Oesman Effendi, disusul karya-karya ciptaan seniman lulusan akademis, misalnya Popo Iskandar, Achmad Sadali, Srihadi S, Fajar Sidik, Kusnadi, Rusli, Nashar, Zaini, Amang Rahman, Suparto, Irsam, Mulyadi W, Abas Alibasyah, Amri Yahya, AS Budiman, Barli, Sudjana Kerton, dan banyak seniman lain dari berbagai daerah.
Koleksi Seni Lukis Indonesia dibagi menjadi beberapa ruangan berdasarkan periodisasi yaitu:
a.       Ruang Masa Raden Saleh (karya-karya periode 1880 - 1890)
b.      Ruang Masa Hindia Jelita (karya-karya periode 1920-an)
c.       Ruang Persagi (karya-karya periode 1930-an)
d.      Ruang Masa Pendudukan Jepang (karya-karya periode 1942 - 1945)
e.       Ruang Pendirian Sanggar (karya-karya periode 1945 - 1950)
f.       Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (karya-karya periode 1950-an)
g.      Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 - sekarang)

1.      Koleksi keramik
           Koleksi Keramik di museum ini jumlahnya cukup banyak, terdiri dari keramik lokal dan keramik asing. Keramik lokal berasal dari sentra industri daerah antara lain Aceh, Medan, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Malang, Bali, Lombok dan lain-lain. Museum ini juga memiliki keramik dari Majapahit abad ke-14 yang menunjukkan ciri keistimewaan yang indah dan bernilai sejarah yang mempunyai keragaman bentuk serta fungsi. Keramik asing meliputi berbagai bentuk, ciri, karakteristik, fungsi dan gaya berasal dari China, Jepang, Thailand, Eropa. Terbanyak dari China terutama pada masa Dinasti MIng dan Ching.

Gambar 4 “Piring dan Mangkuk Warna Sancal” abad ke-17

Gambar 5 “Guci” karya Chang Chou abad ke-16

Gambar 6 “Keramik Buatan Eropa” abad ke 19-20

1.      Studio gerabah
           Museum Seni Rupa dan Keramik juga memiliki tempat pelatihan untuk membuat gerabah (dibuka untuk pelajar dan umum), mulai dari teknik pinching (pijit), cetak dan roda putar. Disedikan pula oven untuk pembakaran gerabah.

Gambar 7 Alat Pembuat Gerabah

1.      Fasilitas gedung
           Gedung ini terdiri dari ruang pertemuan/aula, ruang terbuka/plaza serta taman yang dapat dimanfaatkan untuk acara-acara pameran temporer, pernikahan, seminar, lomba, dan lain-lain. Museum Seni Rupa dan Keramik juga dilengkapi sebuah perpustakaan yang memiliki buku-buku seni rupa dan keramik yang bisa dijadikan panduan tentang seni rupa. Di gedung ini juga terdapat toko cinderamata.  Museum ini memiliki souvenir yang spesifik untuk pengunjung. Seperti kartu pos, buku seni rupa, kerajinan, sketsa, lukisan, keramik lucu, dan lain-lain.

2.      Kegiatan
Kegiatan yang diselenggarakan Museum Seni Rupa dan Keramik setiap tahunnya adalah:
a.       Penyuluhan permuseuman
b.      Pameran temporer
c.       Partisipasi kegiatan diluar museum

3.      Visi dan misi museum seni rupa dan keramik
VISI: Menjadikan Museum Seni Rupa dan Keramik sebagai pusat pelestarian seni rupa Indonesia dan sebagai tujuan kunjungan wisata seni dan budaya yang bertaraf internasional.
MISI: Meningkatkan sumber daya manusia, meningkatkan pelayanan pengunjung, melakukan penataan ruang koleksi secara berkala, meningkatkan kerjasama dengan mitra museum.

4.      Tugas pokok dan fungsi museum seni rupa dan keramik
TUGAS POKOK: Melayani masyarakat dan pengunjung serta mengadakan, menyimpan, merawat, mengamankan, meneliti koleksi, memperagakan dan mengembangkan untuk kepentingan pendidikan, sejarah, kebudayaan, rekreasi, sosial dan ekonomi baik langsung maupun tidak langsung.
FUNGSI:
a.       Penyusunan program dan rencana kegiatan operasional.
b.      Pengusulan pengadaan koleksi serta sarananya.
c.       Penyelenggaraan usaha-usaha, publikasi, pameran koleksi dan pemasaran.
d.      Pelaksanaan pembuatan deskripsi dan registrasi koleksi.
e.       Penyimpanan, penataan dan perawatan koleksi.
f.       Penelitian koleksi.
g.      Pemberian bimbingan dan pelayanan edukatif kultural kepada masyarakat.
h.      Penyelenggaraan pengelolaan perpustakaan museum.
i.        Pelayanan informasi tentang Seni Rupa dan Keramik.
j.        Penyusunan kegiatan ketatausahaan.

5.      Informasi tambahan
a.       Alamat
Jalan Pos Kota No. 2 Jakarta Barat
Telepon: 021.6907062
Faks: 021.6926091
b.      Jam kunjung
Selasa s.d Kamis     : 09.00 – 15.00
Jumat                      : 09.00 – 14.30
Sabtu                      : 09.00 – 19.30
Minggu                   : 09.00 – 20.00
Tutup pada hari Senin & hari libur nasional
c.       Karcis masuk
Dewasa                                     : Rp 5.000/orang
Rombongan dewasa                 : Rp 2.500/orang
Mahasiswa                                : Rp 3.000/orang
Rombongan mahasiswa            : Rp 1.500/orang
Anak-anak/pelajar                     : Rp 2.000/orang
Rombongan anak-anak/pelajar : Rp 1.000/orang

C. Cerita Singkat Perjalanan
Hari itu adalah kamis, tepatnya pagi-pagi sekali kami memutuskan untuk berangkat sekitar jam 8 dari rumah masing-masing dengan Kereta Api. Beberapa orang dari kami ada yang berangkat dari Depok, Kelapa Dua. Seorang yang berangkat dari Bogor. Dan ada juga yang berangkat dari Tanah Abang.
Untuk mencapai museum Seni Rupa dan Keramik, kami semua sepakat untuk berkumpul di Stasiun Kereta Api Jakarta Kota. Kira-kira sekitar jam 10 lewat kami sudah tiba disana. Karena ada satu orang dikelompok kami yang terlambat, jadi kami menunggu sekitar 30 menit. Untuk mengisi kebosanan kami memutuskan membeli beberapa minuman di warung sekitar.
Setelah orang yang kami tunggu tiba akhirnya kira-kira sekitar pukul 11 lewat beberapa menit kami berjalan kaki keluar stasiun sekitar 7 menit untuk mencapai gerbang museum. Museum tersebut terletak di arah utara stasiun yang kami singgahi sehingga kami hanya perlu berjalan lurus dan sekali menyebrang. Suasana Jakarta saat itu seperti biasanya, padat oleh kendaraan maupun orang. Beberapa angkutan umum seperti angkot, mikrolet, bus mini, dan bajaj―yang kami baru tahu bahwa masih ada bajaj di jaman sekarang. Tetapi itu tak aneh mengingat padatnya kendaraan umum di Ibu Kota tersebut sehingga tampak kemacetan dimana-mana. Tentu padatnya oleh kemacetan kendaraan umum tak akan jauh-jauh dari polusi. Apalagi, di siang bolong seperti ini semakin membuat kami meringis karena teriknya matahari. Keringat tak jadi lagi masalah karena kami sudah terbiasa berjalan.
Tibalah kami di gerbang museum Seni Rupa dan Keramik. Jika kami melihat sekitar terdapat beberapa museum juga. Seperti museum Wayang yang tepat berhadapan dengan museum Seni Rupa dan Keramik. Dan terdapat beberapa museum lagi yang tidak kami amati secara jelas sehingga hanya kami lewati saja. Saat itu kami membayar 3000 ribu rupiah untuk setiap orang. Setelah membayar, kami memasuki museum tersebut.
Didepan, tampak gedung putih dengan banyak pilar berjajar menutupi gedung di belakangnya. Barulah setelah kami melewati pilar terdapat pintu di sebelah kiri, arah barat untuk dapat memasuki museum tersebut.
Mungkin, karena ini adalah hari kamis dan bukan hari libur. Jadi, keadaan museum disana ketika kami memasukinya adalah sepi. Hanya beberapa orang yang lewat dan kami termasuk didalamnya. Hal itu dapat di hitung dengan jari.
Seperti judul museum yang kami kunjungi yaitu museum Seni Rupa dan Keramik pastinya tak jauh-jauh dari lukisan, keramik atau karya seni rupa lainnya dari beberapa tahun yang lalu. Atau terdapat lukisan-lukisan terkenal dari dalam negeri.
Kami tak lama berada di dalam museum. Setelah menelusuri beberapa karya maupun melihat-lihat serta tak lupa pula kami mengabadikan karya-karya yang kami anggap bagus atau mengabadikan foto-foto kami selama kami di museum.
Jam 12 tepat kami kembali berjalan ke arah Stasiun untuk tiba di Depok karena ada ilab di kampus H. Sehingga kami tak bisa berlama-lama di museum demi mengejar jam agar tak terlambat.

Lampiran

A. Gambar lainnya

                           Gambar  8 “Rumah-rumahy China di Jatinegara                              
                                           Karya Amrus Natalsya 2000                                                    


Gambar  9 “Miniatur Rumah
Terakota Majapahit

Gambar 10 “ Keramik dengan Teknik Warna-warni”
Buatan Guang-Dong, Dinasti Qing abad ke-19

                                  Gambar 11 “Patung Perwujudan Dewi”                                  
                                                       Terakota Majapahit                                                            
  

Gambar 12 “Kendi” tanah liat
       Tembikar Majapahit
  
Gambar 13 “Patung Wajah” Terakota Majapahit

Gambar 14 (Amanda-Ellen-Prastyo-Firda-Irna) 

Gambar 15 (Amanda-Ellen-Prastyo-Firda-Irna)

Daftar Pustaka

1. Museumku. Museum Seni Rupa dan Keramik. http:// museumku.wordpress.com.
Diakses pada Oktober  2015.
2. Museum Indonesia. Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.
http://www.museumindonesia.com.  Diakses pada Oktober  2015.
3.  Pemula Yunior. Museum Seni Rupa dan Keramikt. http://pemulayunior.blogspot.co.id.
Diakses pada Oktober  2015.
4. The Aroeng Binang Project. Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.
http://www.thearoengbinangproject.com. Diakses pada Oktober 2015.
5. Wikipedia. Museum Seni Rupa dan Keramik. http://www.wikipedia.com. Diakses pada
Oktober 2015.




Ellen R. Leolyta Turnip
12515181
1PA06











Biografi dan Pandangan Hidup Ki Hajar Hajar Dewantara Dalam Dunia Pendidikan



 Tokoh berikut ini dikenal sebagai pelopor pendidikan untuk masyarakat pribumi di Indonesia ketika masih dalam masa penjajahan Kolonial Belanda. Ia pertama kali bersekolah di ELS yaitu Sekolah Dasar untuk anak-anak Eropa/Belanda dan juga kaum bangsawan. Selepas dari ELS ia kemudian melanjutkan pendidikannya di STOVIA yaitu sekolah yang dibuat untuk pendidikan dokter pribumi di kota Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda, yang kini dikenal sebagai fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Meskipun bersekolah di STOVIA, Ki Hadjar Dewantara tidak sampai tamat sebab ia menderita sakit ketika itu.
            BeIiau kemudian bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain De Express, Utusan Hindia,dan Kaum Muda. Sebagai penulis yang handal, tulisannya mampu membangkitkan semangat antikolonialisme rakyat Indonesia.
Ki Hajar Dewantara juga aktif di bidang politik dengan bergabung ke dalam Budi Utomo, lalu mendirikan Indische Partij sebagai partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia pada tanggai 25 Desember 1912 bersama kedua rekannya, Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo . Ki Hajar Dewantara juga ikut membidani terbentuknya Komite Bumiputra di tahun 1913 sebagai bentuk protes terhadap rencana Belanda memeringati kemerdekaannyaa dan Perancis. Beliau kemudian membuat sebuah tulisan pedas di harian De Express yang berjudui “Als lk een Nederlander” (Seandainya Aku Seorang Belanda). Melalui tulisan ini, beliau menyindir Belanda yang hendak merayakan 100 tahun kemerdekaannyaa dan Perancis di negeri jajahan dengan menggunakan uang rakyat indonesia. Berikut ini kutipannya.
“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh Si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. ide untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu ! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”
Tulisan tersebut kemudian menyulut kemarahan pemerintah Kolonial Hindia Belanda kala itu yang mengakibatkan Ki Hadjar Dewantara ditangkap dan kemudian ia diasingkan ke pulau Bangka dimana pengasingannya atas permintaannya sendiri. Pengasingan itu juga mendapat protes dari rekan-rekan organisasinya yaitu Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangunkusumo yang kini ketiganya dikenal sebagai 'Tiga Serangkai'. Ketiganya kemudian diasingkan di Belanda oleh pemerintah Kolonial.
Di Belanda, Ki Hajar Dewantara memanfaatkan kesempatan mendalami masalah pendidikan dan pengajaran. Kemudian pada tahun 1919, ia kembali ke Indonesia dan langsung bergabung sebagai guru di sekolah yang didirikan oleh saudaranya. Pengalaman mengajar yang ia terima di sekolah tersebut kemudian digunakannya untuk membuat sebuah konsep baru mengenai metode pengajaran pada sekolah yang ia dirikan sendiri pada tanggal 3 Juli 1922, sekolah tersebut bernama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa yang kemudian kita kenal sebagai Taman Siswa. Perguruan ini merupakan wadah untuk menanamkan rasa kebangsaaan kepada anak didik.
3 Pandangan Hidup Ki Hajar Dewantara Yang menjadi semboyan Taman siswa sangat terkenal hingga sekarang yaitu : “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani” (“di depan menjadi teladan, di tengah membangkitkan semangat, dari belakang mendukung”). semboyan ini juga memiliki pengetian sebagai berikut :
Ing Ngarso Sun Tulodo
artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsunyang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang – orang disekitarnya.Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan.

Ing Madyo Mbangun Karso
Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Membangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadimakna dari kata itu adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat . Karena itu seseorang juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan

Tut Wuri Handayani
artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikandorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang – orang disekitar kita menumbuhkan motivasi dan semangat.
Selepas kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tahun 1945, Ki Hadjar Dewantara kemudian diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri pengajaran Indonesia yang kini dikenal dengan nama Menteri Pendidikan. Berkat jasa-jasanya, ia kemudian dianugerahi Doktor Kehormatan dari Universitas Gadjah Mada. Selain itu ia juga dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan juga sebagai Pahlawan Nasional oleh presiden Soekarno ketika itu atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan bangsa Indonesia. Tanggal kelahiran beliau pun diperingati setiap tahun sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hadjar Dewantara Wafat pada tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.


Selasa, 10 November 2015

MANUSIA DAN HARAPAN

A.PENGERTIAN HARAPAN
            Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya. Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan.
            Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan terhadap diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Manusia wajib selalu berdoa, karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan.
            Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi, sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Dengan demikian harapan menyangkut masa depan. Bila dibandingkan dengan cita-cita, maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk; sedangkan cita-cita pada umumnya perlu setinggi bintang. Antar harapan dan cita-cita terdapat persamaan yaitu:
·      Keduanya menyangkut masa depan karena belum terwujud
·      Pada umumnya dengan cita-cita maupun harapan orang menginginkan hal yang lebih baik atau meningkat

B. APA SEBAB MANUSIA MEMPUNYAI HARAPAN?
          Menurut kodratnya manusia itu adalah makhluk sosial. Setiap lahir ke dunia langsung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau anggota masyarakat lainnya. Tidak ada satu pun manusia yang luput dari pergaulan hidup. Ditengah-tengah manusia lain itulah, seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik/jasmani maupun mental/spiritualnya. Ada dua hal yang mendorong orang hidup bergaul  dengan manusia lain, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.
Dorongan kodrat
            Kodrat ialah sifat, keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis, bergembira, berpikir, berjalan, berkata, mempunyai keturunan dan sebagainya. Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua.
            Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan atau harapan, misalnya menangis, tertawa, bergembira, dan sebagainya. Kodrat terdapat juga pada binatang dan tumbuh-tumbuhan, karena binatang dan tumbuhan juga perlu makan, berkembang biak dan mati. Yang mirip dengan kodrat manusia ialah kodrat binatang, walaupun bagaimanapun juga besar sekali perbedaannya. Perbedaannya ialah bahwa manusia memiliki akal dan kehendak. Dengan akalnya manusia dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Dan dengan kehendaknya manusia dapat memilih.
            Dalam dir manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawaan dan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat atau hidup bersama dengan manusia lain. dengan kodrat ini manusia mempunyai harapan.

Dorongan kebutuhan hidup
            Kebutuhan hidup itu pada garis besarnya dapat dibedakan atas kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani misalnya: makan, minum, pakaian, rumah, ketenangan, hiburan, dan keberhasilan. Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusia bekerja sama dengan manusia lain. hal ini disebabkan kemampuan manusia sangat terbatas. Baik kemampuan fisik maupun kemampuan berpikirnya.
            Dengan adanya dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai harapan. Pada hakikatnya harapan itu adalah keinginan utnuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
             Menurut Abraham Maslow sesuai dengan kodratnya harapan manusia atau kebutuhan manusia ialah:
a)      Kelangsungan hidup (survival)
b)      Keamanan (safety)
c)      Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai (be loving and love)
d)      Diakui lingkungan (status)
e)      Perwujudan cita-cita (self actualization)


Kelangsungan hidup (survival)
            Untuk melangsungkan hidupnya manusia membutuhkan sandang, pangan, dan papan (tempat tinggal). Kebutuhan kelangsungan hidup ini terlihat sejak bayi lahir. Sandang semula hanya berupa perlindungan/keamanan unyuk melindungi dirinya dari cuaca. Tetapi dalam perkembangan hidupnya, sandang tidak hanya sebagai perlindungan keamanan, tetapi cenderung kepada kebutuhan lain.
            Untuk mencukupi kebutuhan sandang, pangan, dan papan itu maka manusia sejak kecil telah mulai belaja. Dengan pengetahuan yang tinggi harapan memperoleh pangan, sandang, dan papanyang layak akan tepenuhi.



Keamanan
            Setiap orang membutuhkan keamanan. Sejak seorang anak telah lahir ia telah membutuhkan keamanan. Rasa aman tidak harus diwujudkan dengan perlindungan yang nampak, secara moral punorang lain dapat memberi rasa aman. Dalam hal ini agama sering merupakan cara memperoleh keamanan moril bagi pemiliknya. Walaupun secara fisik keadaannya dalam bahaya, keyakinan bahwa Tuhan memberikan perlindungan berarti sudah memberikan keamanan yang diharapkan.


Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai
            Tiap orang mempunyai hak dan kewajiban. Dengan pertumbuhan manusia maka tumbuh pula kesadaran akan hak dan kewajiban. Bila seseorang telah beranjak dewasa, maka ia merasa sudah dewasa, sehingga sudah saatnya mempunyai harapan untuk dicintai dan mencintai. Pada usia itu biasanya terjadi konflik batin pada dirinya dengan pihak orang tua. Sebab umumnya remaja mulai menentang sifat-sifat orang tua yang diangga tidak sesuai dengan alamnya.


Status
            Setiap manusia membutuhkan status. Siapa, untuk apa, dan mengapa manusia hidup. Setiap manusia yang lahir tentu akan bertanya tentang status keberadaannya. Status dalam keluarga, masyarakat, dan negara. Status itu penting karena dengan status orang tahu siapa dia. Harga diri orang antara lain melekat pada status orang itu.

  
Perwujudan cita-cita
            Selanjutnya manusia berharap diakui keberadaannya sesuai dengan keahliannya atau profesinya. Pada saat itu manusia mengembangkan bakat atau kepandaiannya agar ia diterima atau diakui kehebatannya.

C. KEPERCAYAAN
            Kepercayaan berasal dari kata percaya artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kepercayaan.
            Dalam agama terdapat kebenaran-kebenaran yang dianggap diwahyukan artinya diberitahukan oleh Tuhan langsung atau tidak langsung kepada manusia. Kepercayaan dalam agama merupakan keyakinan yang paling besar. Hak berpikir bebas, hak atas keyakinan diri sendiri menimbulkan juga hak beragama menurut keyakinan. Dalam hal beragama tiap-tiap orang wajib menerima dan menghormati kepercayaan orang yang beragama itu. Dasarnya ialah keyakinan masing-masing.
Kebenaran
            Kebenaran atau benar amat penting bagi manusia. Setiap orang mendambakannya. Karena ia punya arti khusus bagi hidupnya. Ia merupakan fokus dari segala pikiran, sikap, dan perasaan.
            Dalam tingkah laku, ucapan, perbuatan manusia selalu berhati-hati agar mereka tidak menyimpang dari kebenaran. Manusia sadar, bahwa ketidakbenaran dalam bertindak, berucap dapat mencemarkan atau menjatuhkan namanya.
            Jelaslah bagi kita bawha kebenaran merupakan kunci kebahagiaan manusia. Itulah sebabnya manusia selalu berusaha mencari, mempertahankan, memperjuangkan kebenaran.
            Dr. Yuyun Suriasumantri dalam bukunya “filsafat ilmu”, sebuah pengantar populer ada tiga teori kebenaran yaitu sebagai berikut:
1)      Teori koherensi atau konsisten
Yaitu sebuah pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koherensi atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
2)      Teori korespondensi
Suatu teori yang menjalankan bahwa suatu pernyataan benar bila materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorenponden (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan itu.
3)      Teori prsgmatis
Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan itu bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.
            Dalam berbagai jenis  kebenaran tersebut yang selalu diusahakan dan dijaga ialah kebenaran dalam bertindak, berbuat, berucap, berupaya, dan berpendapat. Sebab ketidakbenaran dalam hal-hal itu akan langsung mencemarkan atau menjatuhkan nama baiknya, sehingga orang tidak mempercayainya lagi.

D. BERBAGAI KEPERCAYAAN DAN USAHA MENINGKATKANNYA
            Dasar kepercayaan adalah kebenaran, sumber kebenaran adalah manusia. Kepercayaan itu dapat dibedakan atas:
1.    Kepercayaan pada diri sendiri
Kepercayaan pada diri sendiri itu ditanamkan setiap pribadi manusia. Percaya pada diri sendiri pada hakikatnya percaya kepada Tuhan yang maha esa. Percaya pada diri sendiri, menganggap dirinya tidak salah, dirinya menang, dirinya mampu mengerjakan yang diserahkan atau dipercayakan kepadanya.

2.    Kepercayaan kepada orang lain
Percaya kepada orang lain dapat berupa percaya kepada saudara, orang tua, guru, atau siapa saja. Kepercayaan kepada orang lain itu sudah tentu percaya terhadap kata hatinya, perbuatan yang sesuai dengan kata hati, atau terhadap kebenarannya. Ada ucapan yang berbunyi “orang itu dipercaya karena ucapannya”.

3.    Kepercayaan kepada pemerintah
Jelaslah bagi kita, baik teori atau pandangan teokratis ataupun demokratis negara atau pemerintah itu benar karena Tuhan adalah sumber kebenaran. Karena itu wajarlah kalau manusia sebagai warga negara percaya kepada pemerintah/negara.

4.    Kepercayaan kepada Tuhan

Kepercayaan kepada Tuhan yang maha kuasa itu amat penting, karena keberadaan manusia itu bukan ada dengan sendirinya, tetapi diciptakan oleh Tuhan. Kepercayaan berarti keyakinan dan pengakuan akan kebenaran. Kepercayaan itu amat penting, karena merupakan tali kuat yang dapat menghubungkan rasa manusia dengan Tuhannya. Bagaiman Tuhan dapat menolong umatnya apabila umat itu tidak memiliki kepercayaan kepada Tuhannya.