Selasa, 28 Juni 2016

Kegiatan Observasi Ke Anjungan Nusa Tenggara Timur di TMII

Saya dan teman-teman saya mendapat tugas dari mata kuliah antropologi untuk mengadakan observasi tentang salah satu kebudayaan yang ada di Indonesia. Kami mendapat bagian untuk mengobservasi kebudayaan Nusa Tenggara Timur. Nah, gak mungkin dong kami pergi ke provinsi Nusa Tenggara Timur jadi kami memutuskan untuk pergi ke Taman Mini Indonesia Indah karena disitu terdapat berbagai kebudayaan dari semua provinsi yang di Indonesia. Kami memfokuskan observasi kami tentang rumah adat provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Rumah Temukung.

Sejarah Singkat Nusa Tenggara Timur

            Nama daerah Nusa Tenggara semula adalah nama pulau-pulau sunda kecil yang meliputi pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor, dan pulau-pulau lainnya termasuk Rote, Sawu, dan Alor. Pada tahun 1950 berdasarkan peraturan pemerintah No. 21 tahun 1950 maka daerah-daerah Flores, Sumba, Timor, Sumbawa, Lombok, dan Bali merupakan satu Provinsi Administratif dengan nama provinsi Sunda Kecil.  Pada tahun 1954 dengan UU Darurat No. 9 Tahun 1954 nama Sunda Kecil diganti dengan nama Nusa Tenggara. Pada tahun 1957 setelah berlakunya UU No. 1 tahun 1957 tentang pokok-pokok Pemerintahan Daerah dan dengan UU No. 64 tahun 1958 Provinsi Nusa Tenggara dibagi menjadi tiga daerah Swantantra Tingkat 1, yaitu masing-masing Swantantra Tingkat 1 Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Daerah Tingkat 1 Nusa Tenggara Timur meliputi bekas daerah pulau Flores, Sumba dan Timor dan kepulauannya. Hasil terakhir diketahui bahwa Nusa Tenggara Timur hingga saat ini memiliki 566 buah pulau yang tersebar diantara tiga buah pulau besar yaitu Flores, Sumba dan Timor yang biasa disapa “Flobamor”. Demikian sejarah singkat tentang provinsi Nusa Tenggara Timur.


Sabu adalah salah satu sukubangsa yang ada di sana. Mereka hidup di Pulau Sabu.

Masyarakat Sabu mengembangkan desain rumah yang diwariskan dari nenek moyang mereka. Rumah bagi masyarakat Sabu, tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dari dinginnya udara malam, teriknya sinar matahari, dan derasnya air hujan, tetapi juga memiliki fungsi lain yang sangat erat kaitannya dengan kondisi sosial-budaya mereka. Oleh karena itu, selaras dengan fungsinya, mereka mengenal dan mengembangkan berbagai jenis rumah. Satu di antaranya adalah rumah adat yang oleh mereka disebut “Temukung”. Arsitektur rumah ini berbeda dengan jenis rumah lainnya (rumah biasa dan rumah ibadat). Oleh karena arsitekturnya berbeda, maka makna simbolis dan filosofis yang ada di balik bagian-bagiannya juga berbeda.

Tulisan ini mengetengahkan bentuk, bagian-bagian, makna simbolik dan filosofis yang ada dalam sebuah rumah temukung.

Jenis, Bentuk dan Bagian-bagian Rumah Temukung Beserta Makna Simboliknya
Rumah temukung termasuk dalam kategori rumah panggung. Rumah yang bentuknya empat persegi panjang ini bagian-bagiannya ada yang bermakna filosofis dan ada yang non-filosofis (fungsional belaka). Bagian-bagian itu adalah: atap, bangngu (balok lok bubungan), tiang-tiang gela yang berfungsi sebagai penopang bangngu, dinding, pintu, tangga, dan kelaga (balai-balai). Untuk lebih jelasnya, berikut ini bagian-bagian itu akan diuraikan satu-persatu.

Atap
Atap rumah temukung menyerupai perahu yang terbalik. Oleh karena itu, Orang Sabu menyebut atap rumah temukung sebagai “atap perahu terbalik”. Bentuk atap yang menyerupai perahu terbalik ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan mereka yang selalu berhubungan dengan laut (tidak dapat dipisahkan dari laut). Dalam kehidupan sehari-hari, perahu tidak hanya sekedar sebagai alat transportasi ke dan dari pulau-pulau yang ada di sekitarnya, tetapi juga sebagai alat untuk mencari ikan dan sekaligus sebagai tempat berlindung di lautan. Mengingat bahwa perahu demikian berartinya bagi Orang Sabu, maka ketika mereka membuat rumah, atapnya dibuat menyerupai perahu (perahu yang terbalik). Ini adalah simbol bahwa kehidupan mereka tidak lepas dari laut. Malahan, bukan atap rumah saja, menyebut suatu kampung atau kumpulan kampung pun dengan istilah ree kowa (kampung perahu).

Balok Lok Bubungan
Istilah lain yang sering digunakan oleh Orang Sabu untuk menyebut balok lok bubungan adalah “bangngu”. Bangngu sangat erat kaitannya dengan atap karena ukuran atap ditentukan oleh bagian ini. Bentuk bangngu pada tipe rumah temukung dan rumah biasa dapat dibagi menjadi dua, yaitu: ammu ae roukoko (bangngu yang sama ukurannya dengan badan rumah) dan ammu iki (bangngu yang ukurannya 3/5 dari panjang badan rumah)2). Bangngu ini dipasangi kayu-kayu yang posisinya menurun ke arah samping kiri dan kanan sampai ke tepi tiris, sehingga bentuknya menyerupai segi tiga. Kayu-kayu tersebut oleh mereka disebut worena (usuk besar). Dalam sebuah rumah, baik temukung maupun rumah biasa, jumlahnya selalu ganjil. Sebutan untuk jumlah worena dalam sebuah rumah sesuai dengan bahasa deret hitung mereka. Jadi, jika jumlah worenanya ada tiga buah, maka disebut “wo tallu”; jika ada lima buah disebut “wo pidu”; jika ada tujuh buah disebut “wo heo”; dan seterusnya.

Di atas worena dipasangi kayu-kayu yang arahnya melintang. Kayu-kayu ini oleh Orang Sabu disebut “reng” atau “badu”. Jumlah badu yang ada di bagian depan rumah selalu ganjil (9, 11, dan 21), sedangkan yang ada di bagian belakang rumah selalu genap (10,12, dan 22). Ganjil dan genapnya jumlah badu mengandung makna tersendiri. Ganjil merupakan simbol: kiri, belakang, adik, dan perempuan. Sedangkan, genap merupakan simbol: kanan, depan, kakak, dan laki-laki. Artinya, dalam struktur sosial masyarakat Sabu seorang kakak laki-laki mempunyai kedudukan dan peranan yang penting, baik dalam keluarganya maupun masyarakatnya.

Tiang-tiang Rumah Temukung/Gela (Tiang Penopang Bangngu)
Jumlah gela ada dua buah. Satu ada di ujung kiri dan satunya lagi ada di ujung kanan bangngu. Di antara kedua gela itu ada ruang terbuka (kosong). Orang Sabu menyebut ruang itu “roa ammu”. Gela biasanya terbuat dari kayu kola, kayu merah, kayu jati, kayu pohon lontar, kayu pohon kelapa, ajumaddi (kayu hitam) dan aju bahhi (kayu besi). Kayu lainnya dianggap kurang baik.

Selain gela yang berfungsi sebagai penopang bangngu ada tiang-tiang yang fungsinya untuk menopang atap secara keseluruhan. Jumlahnya sekitar 8--10 buah. Tiang-tiang yang jenis kayunya sama dengan gela dibentuk bulat dengan panjang kurang lebih 3 sampai 4 meter. Ujungnya dibentuk runcing, sedangkan pangkalnya dipotong rata. Ujungnya yang runcing itu dimasukkan pada lubang yang dibuat pada kebie (balok penindas), sedangkan pangkalnya ditanamkan dalam tanah. Tiang-tiang tersebut ada yang ditanamkan dalam tanah (geri) dan ada yang ditumpukan di atas balok (tiang-tiang yang terdapat di gela). Di antara tiang-tiang itu ada dua tiang yang oleh Orang Sabu dianggap sebagai “tarru” (tiang utama), yaitu “tarru duru” (tiang laki-laki/tiang haluan) dan “tarru wui” (tiang perempuan/tiang buritan). Agar kedua tiang utama itu, satu dengan lainnya tidak kelihatan, maka dibuatkan dinding pemisah. Ini penting karena menurut mereka tarru duru tidak boleh “terlihat“ oleh taru wui.

Sementara itu, tiang-tiang lainnya, seperti tiang-tiang penyangga loteng dan tiang penyangga balok-balok lainnya diberi nama menurut pembagian utama dalam rumah temukung, yaitu duru dan wui. Sedangkan, tiang penyangga yang melebar ke tiris, dinamakan hubu (moncong). Tiang moncong itu sendiri ada yang disebut “moncong duru” dan “moncong wui”. Ujung duru maupun wui dibuat agak melengkung. Bentuk seperti ini oleh mereka disebut “tebakka”. Fungsinya sebagai “jalan nafas” rumah.

Lepas dari masalah pemasangan dan penamaan dari berbagai tiang yang terdapat pada rumah temukung, yang jelas bahwa pembulatan dan peruncingan tiang tidak hanya sekedar bagian dari teknologi tradisional yang mereka terapkan dalam pembuatan sebuah rumah temungkus. Akan tetapi, ada makna simbolik yang mengacu pada pandangan tentang alam semesta yang bersifat dikotomis. Dalam konteks ini tiang yang berbentuk bulat dengan ujung yang runcing sebagai simbol laki-laki, sedangkan kebie (balok penindas) sebagai simbol perempuan.

Kelaga (Balai-balai)
Orang Sabu menyebut lantai rumah temukung sebagai kelaga (balai-balai). Kelaga terbagi dalam tiga bagian, yaitu: kelaga rai (balai-balai tanah), kelaga ae (balai-balai besar) dan kelaga dammu (balai-balai loteng). Bagian-bagian tersebut sangat erat kaitannya dengan kepercayaan mereka tentang dunia. Menurut mereka “dunia” terbagi dalam tiga bagian, yaitu: rai dida-liru bala (dunia para dewa), rai wawa (dunia manusia), dan rai menata (dunia para arwah).

Kelaga rai terdapat di sepanjang sisi bagian depan atau bagian kanan rumah3). Kelaga yang ketinggiannya dari permukaan tanah sekitar 0,50--0,75 meter ini terbagi dalam dua bagian, yaitu: kelaga rai duru dan kelaga rai wui. Kelaga rai duru adalah kelaga yang berada di bagian kiri rumah yang disimbolkan sebagai “laki-laki”. Oleh karena itu, kelaga ini hanya untuk menerima tamu laki-laki. Sedangkan, kelaga rai wui adalah bagian kelaga yang disimbolkan sebagai “perempuan”. Kelaga ini disamping untuk menerima tamu perempuan, juga digunakan untuk bekerja (menganyam atau menenun).

Kelaga ae yang merupakan balai-balai besar terletak di atas balok-balok utama. Kelaga yang ketinggiannya sekitar 1,00--1,50 meter dari permukaan tanah ini juga terbagi atas dua bagian: duru (laki-laki) dan wui (perempuan). Di dalam kelaga ae ini ada empat balok utama (ae) yang menopang kelaga dammu (balai-balai loteng). Kelaga ini biasanya digunakan sebagai tempat makan bagi para anggota rumah maupun tamu. Dan, sama seperti kelaga rai, kaum laki-laki akan makan di bagian duru, sedangkan kaum perempuan akan makan di bagian wui.

Kelaga dammu (balai-balai loteng) terletak di bagian wui rumah. Kelaga ini tertutup dengan tabir yang terbuat dari ketangan rohe (daun kelapa), sehingga terlindung dari pengelihatan orang-orang yang duduk di bagian “lelaki”. Kelaga ini digunakan untuk menaruh barang yang berkaitan dengan “urusan” perempuan (benang, alat ikat, tenun dan lain sebagainya). Hanya kaum perempuan, termasuk Inna Ammu (isteri kepala rumah), yang boleh memasukinya. Kekhususan inilah yang kemudian membuahkan ungkapan bahwa kelaga dammu adalah wewenang kaum perempuan.

Selain ketiga kelaga tersebut di atas, ada sebuah kelaga lagi yang dinamakan kelaga ruuhu (balai-balai rusuk). Kelaga ini letaknya sejajar dengan bagian tengah rumah temukung. Diantara kelaga dan ruang tengah diberi dinding (sekat), sehingga tidak terlihat dari bagian wui maupun duru rumah. Kelaga ruuhu ini pada bagian wui-nya digunakan untuk melakukan kegiatan memasak serta menyimpan alat-alat dapur. Tempat tersebut, oleh orang Sabu, disebut “koppo”.

Pintu
Orang Sabu menyebut pintu rumah temukung sebagai kelai. Bentuknya segi empat. Secara keseluruhan, jumlah pintu rumah temukung ada empat, yaitu: kelai duru (pintu anjungan), kelai wui (pintu buritan), kelai koppo (pintu kamar), dan kelai dammu (pintu loteng). Ukuran setiap pintu bergantung dari ukuran rumah itu sendiri. Meskipun demikian, pada umumnya berukuran: panjang sekitar 1,30-1,75 meter dan lebar 0,70-0,90 meter. Di masa lalu pintu terbuat dari anyaman daun lontar. Namun, dewasa ini jarang ditemukan karena sebagian besar sudah menggunakan kayu.

Berdasarkan cara membuka dan atau menutupnya, pintu rumah temukung dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: kelai ketode (pintu tolak gantung), kelai nyaka (pintu tolak) dan kelai moda (pintu putar). Kelai ketode adalah pintu yang dibuka dengan cara ditolak ke atas dan hanya terdapat di bagian loteng rumah (kelaga dammu). Kemudian, kelai moda adalah pintu yang cara buku-tutupnya dengan memutarnya. Sedangkan, kelai nyaka dibuka dengan cara mendorong ke sisi kiri maupun kanan. Pintu ini terdapat pada anjungan dan wui (buritan) rumah.

Tangga
Tangga rumah temukung berbentuk segi empat. Jumlah anak tangganya bergantung tinggi-rendahnya tangga (pada umumnya berketinggian sekitar 0,50–0,60 meter). Tangga ini kebanyakan digunakan untuk naik ke loteng (kelaga dammu) atau untuk naik ke balai-balai besar, khususnya jika panjang balai-balai tanah tidak mencapai daerah pintu. Meskipun demikian, ada juga yang tidak menggunakan tangga untuk naik ke balai-balai besar (kelaga ae) karena di bawah pintu anjungan sudah ada balai-balai tanah sebagai tempat berpijak.

Dinding
Posisi dinding tegak lurus (menempel pada ujung kelaga ae). Ujung dinding bagian bawah lebih rendah sedikit dari kelaga ae, sedangkan ujung dinding bagian atas berakhir di bawah kabie. Dinding tersebut didirikan mengelilingi bagian tengah rumah (mengelilingi kelaga ae dan kelaga ruuhu). Untuk bagian atas (dammu) hanya disekat dengan ketangga robe (tutup gesek) yang dibuat dari daun kelapa. Letaknya yang ada di tengah-tengah atap sekaligus berfungsi sebagai tabir (pembatas antara loteng dan ruang atap duru (anjungan). Tabir ini juga berfungsi sebagai pemisah antara atap duru dan wui. Motif hiasan yang terdapat dalam tabir biasanya berupa meander atau tanaman menjalar.

Nilai Budaya
Rumah dalam sebuah masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dari teriknya sinar matahari, derasnya air hujan, dan dinginnya udara malam semata, tetapi juga memiliki fungsi yang lain (fungsi sosial-budaya masyarakat yang bersangkutan). Oleh karena itu, rumah dibuat tidak hanya sekedar kokoh dan kuat, tetapi juga diselimuti dengan makna simbolik yang mengacu pada nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Rumah temukung yang merupakan rumah khas orang Sabu misalnya, jika dicermati secara teliti, juga mengandung nilai-nilai yang ditumbuh-kembangkan dalam budaya mereka. Nilai-nilai itu, antara lain adalah: kebaharian, kesehatan, keseimbangan, dan kepercayaan (kehidupan setelah mati).

Nilai kebaharian tercermin dari atap rumah mereka yang dibentuk menyerupai perahu yang terbalik. Ini artinya bahwa orientasi mereka adalah laut, sehingga laut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka. Untuk dapat “bercanda”, “bergumul”, dan sekaligus mengais kehidupan di laut, perahu merupakan alat yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Untuk menunjukkan betapa berartinya perahu dalam kehidupan mereka, maka ketika mereka membuat rumah temukung, atapnya dibuat menyerupai perahu yang terbalik. Ini sekaligus menunjukkan bahwa mereka adalah masyarakat bahari.

Nilai kesehatan tercermin dalam pembuatan tebakka (ujung duru dan wui yang agak melengkung) yang berfungsi sebagai “jalan nafas” rumah. Ini artinya, Orang Sabu dalam membuat sebuah rumah memperhatikan sirkulasi udara, sehingga rumah yang mereka buat tidak pengap. Dengan perkataan lain, mereka mempedulikan kesehatan.

Nilai keseimbangan tercermin dalam makna simbolik dari tiang yang berbentuk bulat dengan ujung yang runcing (sebagai simbol laki-laki) dan kebie (balok penindas) sebagai simbol perempuan. Simbol-simbol tersebut sangat erat kaitannya dengan pandangan Orang Sabu tentang alam semesta yang bersifat dikotomis, yaitu segala sesuatu bersifat berlawanan tetapi harus berjalan sebagaimana mestinya (seimbang).

Nilai kepercayaan (kehidupan setelah mati) tercermin dalam makna simbolik dari kelaga yang terdiri atas tiga bagian (kelaga rai, kelaga ae dan kelaga dammu). Bagian-bagian tersebut sangat erat kaitannya dengan kepercayaan mereka tentang “dunia” rai dida-liru bala (dunia para dewa), dunia rai wawa (dunia manusia), dan dunia rai menata (dunia para arwah). Ini artinya Orang Sabu percaya bahwa ada kehidupan lain setelah kematian. (Pepeng)

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1998. Khasanah Budaya Nusantara IX. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
www.wikipedia.org
http://uun-halimah.blogspot.co.id/2008/02/rumah-adat-temukung-ntt.html







Kegiatan Observasi SLB Negeri 02 Jakarta

BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang

Di Indonesia, sejarah perkembangan sekolah luar biasa dimulai ketika Belanda masuk ke Indonesia (1596-1942) mereka memperkenalkan sistem persekolahan dengan orientasi barat. Untuk pendidikan bagi anak-anak penyandang cacat dibuka lembaga–lembaga khusus. Lembaga pertama untuk pendidikan anak tuna netra dan grahita pada tahun 1927 dan untuk tuna rungu pada tahun 1930. Ketiganya terletak dikota Bandung. Mengenai anak-anak yang mempunyai kelainan fisik atau mental, dalam Undang-Undang disebutkan bahwa pendidikan dan pengajaran luar biasa diberikan dengan khusus untuk mereka yang membutuhkan (pasal 6 ayat 2) dan dalam pasal 8 yang mengatakan bahwa semua anak-anak yang sudah berumur 6 tahun berhak dan sudah berumur 8 tahun diwajibkan belajar di sekolah sedikitnya 6 tahun. Dengan diberlakukannya Undang-Undang tersebut, maka didirikan sekolah-sekolah baru yang  khusus bagi anak-anak penyandang cacat termasuk untuk anak tuna daksa dan tuna laras, sekolah ini disebut sekolah luar biasa (SLB).
Sebagian berdasarkan urutan sejarah berdirinya SLB pertama untuk masing-masing kategori kecacatan, SLB-SLB itu dikelompokkan menjadi:
(1) SLB bagian A untuk anak tuna netra,
(2) SLB bagian B untuk anak tuna rungu,
(3) SLB bagian C untuk anak tuna grahita,
(4) SLB bagian D untuk anak tuna daksa
(5) SLB bagian E untuk anak tuna laras, dan
(6) SLB bagian G untuk anak cacat ganda.

SLB NEGERI 02 JAKARTA adalah salah satu wadah untuk membantu penyandang cacat untuk bias mengikuti kegiatan belajar mengajar, karena ketidaksempurnaan fisik bukanlah suatu kendala seseorang untuk mendapatkan pendidikan yang layak. SLB NEGERI 02 JAKARTA terletak di Jl. Raya Lenteng Agung no 1 Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa Kabupaten Kota Jakarta Selatan yang berkejurusan SMLB. Sekolah ini terdapat 2 jenjang sekolah yaitu SMP dan SMA. Sejarah terbentuknya sekolah ini berawal dari berdirinya SLB N 1 Lenteng Agung yang berada di belakang Universitas Pancasila yang berdiri pada tahun 1983 yang dulunya bernama sekolah uji coba yang dirintis oleh Bakri dan Trini yang dikepalai oleh M. Wachid Al-Wakhidan S.pd.
Sekolah ini terdiri dari sekolah dasar luar biasa (SDLB), sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB), dan sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) yang mana SMPLB dan SMALB merupakan bagian dari SLB NEGERI 02 JAKARTA. Sekolah ini memilki 11 tenaga pengajar dan 52 siswa, terdiri dari 32 laki-laki dan 20 perempuan. Dimana masing-masing siswa dibedakan menjadi 4 kelas, yaitu kelas A bagi penyandang Tuna Netra, kelas B bagi penyandang Tuna Rungu/Wicara, kelas C bagi penyandang Tuna Grahita (keterlambatan berpikir). Kelas ini pun kemudian dibagi 2, yaitu C (Grahita ringan), dan C1 (Grahita berat) dan kelas D bagi penyandang Tuna Daksa (kelainan motorik anggota tubuh atau tubuh yang tidak sempurna) serta beberapa anak autis dan mereka tetap disatukan dalam suatu kelas.
Untuk bisa masuk sekolah ini, harus melalui beberapa tes diantaranya tes intelektual atau IQ. Jika IQ lebih rendah atau jauh dibawah rata-rata orang normal, baru bisa dikatakan ada kelainan dan hal tersebut sudah dapat memenuhi persyaratan.

B.     Visi dan Misi

·           Visi SLB NEGERI 02 JAKARTA :
Mengembangkan kemampuan berbahasa dan komunikasi untuk meningkatkan iman dan taqwa, pengetahuan dan keterampilan serta kemandirian peserta didik.

·           Misi SLB NEGERI 02 JAKARTA :
1.    Melakukan kajian dan penyesuaian kurikulum
2.    Menyelenggarakan pembelajaran yang aktif, interaktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM), serta bermakna, kooperatif, dan dinamis.
3.    Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang bernuansa religius.
4.    Membangun karakter dan etos kerja peserta didik.
5.    Menanamkan konsep diri positif sehingga dapat beradaptasi dan bersosialisasi di masyarakat.
6.    Mengembangkan sumber daya manusia (pendidik dan peserta didik) yang profesional, fungsional, berkualitas, kreatif dan inovatif.
7.    Menjalin kerjasama yang sinergis di lingkungan sekolah, dunia industri, dan dunia usaha.


C.     Sarana dan Prasarana

SLB NEGERI 02 JAKARTA ini terdapat 11 ruangan, belum termasuk ruang guru dan ruang kepala sekolah, 9 ruangan untuk kelas belajar mengajar dan 2 kelas lainnya untuk ruang ketrampilan siswa yang mana merupakan 1 kelas adalah ruang praktek tata boga dan ruang praktek busana dan 1 kelas lainnya adalah laboratorium otomotif. Lapangan olahraga yang cukup luas dan bersih, serta fasilitas lainnya ialah; absensi manual, mushola, kantin dan perpustakaan.


BAB II
HASIL WAWANCARA DAN OBSERVASI


1.  Kurikulum SLB NEGERI 02 JAKARTA

Kurikulum yang digunakan di SLB Negeri 02 Jakarta sebagian besar sudah menggunakan kurikulum 2013 tetapi beberapa kelas yang belum menggunakan kurikulum KTSP 2006 misalnya kelas XII SMA. Keuntungan dari menggunakan kurikulum 2013 adalah sistem  kurikulumnya yang sudah berbasis student center yang artinya berbasis pada kegiatan aktif siswa. Dengan kurikulum ini juga kegiatan belajar siswa lebih bervariasi, kegiatan belajar tidak hanya berada di dalam kelas tetapi di luar kelas juga.

2.  Metode Belajar

Pada dasarnya inti dari pendidikan berkebutuhan khusus adalah pendidikan individual. Metode belajar yang digunakan di sekolah ini yaitu metode belajar yang sesuai dengan kemampuan siswa. Misalnya dalam satu kelas tuna grahita siswa pasti memiliki kemampuan yang berbeda-beda oleh karena itu guru tidak sama cara penyampaian pelajarannya terhadap tiap siswa. Guru menyampaikan materi pelajarannya sesuai dengan kemampuan para siswa.

3.  Kegiatan Non-Akademik

Selain kegiatan akademik, SLB NEGERI 02 ini juga mempunyai kegiatan non-akademik yang berupa ekstrakulikuler atau pengembangan diri yang dilaksanakan setiap hari rabu, yang terdiri dari :
1.    Pantonim
SLB Negeri 02 ini pernah mengikuti ajang LS2M festival seni bagi anak berkebutuhan khusus tingkat Nasional dan mendapatkan juara harapan 1.
2.    Bulu tangkis
Dalam bidang ini mereka mendapatkan Juara 1 tingkat Nasional mewakili DKI Jakarta.
3.    Kesenian
Yang terdiri atas : seni tari, seni suara, tata busana, tata boga melukis dan memainkan alat musik seperti piano. Anak-anak SLB ini pernah mengikuti ajang kesenian bermain piano di korea
4.    Olahraga bocin
Untuk anak Grahita sedang sekitar 2 tahun yang lalu mengikuti lomba di Autralia.
5.    Melukis dan mewarnai

Meskipun mereka mempunyai kekurangan bukan berarti tidak bisa berkarya mengharumkan nama bangsa di tingkat nasional maupun internasional. Mereka punya potensi, bakat yang dikembangkan lewat ekstrakulikuler ataupun kegiatan yang dilaksanakan disekolah ataupun diluar sekolah yang mana belum tentu kita sebagai yang normal bisa seperti mereka.


4.  Pergaulan Sekolah

Pergaulan disekolah ini terbilang cukup baik dimana mereka saling membaur, berteman membangun lingkungan yang harmonis terlihat dari ketika kami melakukan observasi anak-anak di sekolah itu memiliki etika pergaulan yang baik, sopan santun dan ramah bahkan sebagian dari anak-anak Tuna grahita bisa sedikit menguasai bahasa isyarat sehingga mereka lebih mudah dalam berkomunikasi satu sama lain khususnya kepada anak tuna rungu, meskipun bahasa isyarat yang dikuasai tidak begitu sempurna tetapi secara keseluruhan anak tuna grahita ataupun tuna yang lain mengerti apa yang dikatakan teman-temannya dan mereka pun sering pulang sekolah bersama, mereka juga mempunyai sikap toleransi dan saling menghargai satu dan yang lainnya tidak saling mengejek kekurangan yang dimiliki masing-masing dan diantara mereka tercipta pergaulan yang sangat bagus.


5.  Permasalahan Di Sekolah

Sama seperti remaja lainnya siswa di SLB ini juga ada saja yang melakukan pelanggaran baik di sekolah maupun di luar sekolah. Contohnya siswa yang berkelahi, ada siswa yang tidak langsung pulang dan menongkrong di suatu tempat, ada siswa yang mencoba merokok dan yang terakhir dan termasuk pelanggaran berat yaitu ada sekolompok siswa yang mencuri.
Disini peran guru BK sangat penting dalam menangani permasalahan tiap siswa mulai dari bimbingan, pengarahan, hingga skorsing atau pemanggilan orang tua. Terjalinnya komunikasi yang baik dan serta kepercayaan dan rasa aman yang selalu dibangun menjadikan siswa-siswa disana tanpa rasa takut dan jujur untuk melaporkan apabila mereka melihat temannya yang berbuat suatu pelanggaran.